Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Berita

Demam Berdarah Dengue (DBD) dikategorikan jenis penyakit menular yang dapat  menimbulkan wabah pada suatu daerah tertentu sesuai dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1984 dan Peraturan Menteri Kesehatan No.560 Tahun 1989 tentang wabah penyakit menular.

Demam berdarah disebabkan oleh virus akibat gigitan nayamuk Aedes Aegephty betina yang dapat menyerang siapa saja dan semua kelompok umur dan apabila tidak epat dilakukan tindakan dapat menyebabkan kematian. Sampai saat in DBD masih menjadi permasalahan serius di Indonesia dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat dan pemerintah dalam menanggulanginya.

Secara umum ada 3 unsur yang dapat menanggulangi penyebaran DBD yaitu Manusia, Virus dan Vector Perantara (Nyamuk).

Manusia, dalam artian segera dilakukan penanganan bagi penderita yang positif kena DBD. Dalam hal ini kerja sama masyarakat dan Instansi terkait memegang peranan penting. Apabila diketahui tanda-tanda penderita DBD segera melakukan pengobatan ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Virus, Infeksi virus Dengue menyerang sistem peredaran darah, yakni menyebabkan trombosit (keping darah) dan sel darah putih turun dan komponen cairan dalam darah keluar ke jaringan sekitar. Seorang penderita infeksi virus Dengue rentan mengalami perdarahan.

Sebagian besar penyakit virus bersifat self-limiting, artinya virus akan mati sendiri. Seperti penyakit yang disebabkan oleh virus, infeksi virus Dengue sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Namun yang dikhawatirkan dari penyakit virus ialah gejala dan komplikasi yang terjadi. Pengobatan untuk infeksi virus Dengue, termasuk spektrumnya, adalah mengobati gejala yang timbul dan mencegah terjadinya komplikasi.

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), merupakan pencegahan terhadap berkembangnya nyamuk yang menyebabkan virus dengue tersebut. Harus dilakukan sedini mungkin dengan mencegah jentik bakal nyamuk hidup dan berkembang.

Memeriksa tempat-tempat yg bisa mjd sarang nyamuk

Cara yang dilakukan dengan istilah 3M yaitu Menguras bak mandi atau tempat penampungan air, Menutup tempat-tempat yang bisa dijadikan sarang nyamuk dan Mengubur metrial yang tidak bisa diuraikan dan bisa menyebabkan tempat tumbuh dan berkembang nyamuk.

Menguras penampungan air

Selain tindakan tersebut diatas juga bisa dengan membubuhkan Larvasida/Temephos/Abate apabila tempat penampungan air tersebut sulit dikuras atau dibersihkan dan memelihara ikan dikolam atau akuarium. Sebagai pencegahan awal bisa menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat oles anti nyamuk dan menggunakan pakaian yang tertutup.

Mengubur barang barang yg bisa mjd tempat berkembang biak nyamuk.

Untuk nyamuk yang sudah tumbuh dan berkembang diputus mata rantai penularannya dengan Pengasapan atau Fogging. Karena bersifat memutus mata rantai penularan, maka harus memenuhi kriteria sebagai berikut : Sudah ditemukan penderita DBD disuatu wilayah dan merupakan penularan setempat (indegenous), ditemukan korban penderita DBD yang meninggal dunia dan adanya beberapa penderita yang mengalami panas badan yang tidak diketahui sebab yang jelas dan dari penelitian disekitar rumah penderita panas tersebut ditemukan jentik nyamuk lebih dari 5%.

Fogging sbg sarana memutus mata rantai nyamuk dewasa.

Namun fogging hanya bersifat membunuh nyamuk dewasa dan bersifat sementara. Fogging lebih diutamakan untuk penanggulangan KLB (Kejadian Luar Biasa). Sedangkan untuk pencegahannya dilakukan dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) secara berkesinambungan. Sudah saatnya masyarakat peduli dengan memberantas sarang nyamuk sebagai tindakan antisipasi. @z 2019

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.