Sejarah Kabupaten Banjarnegara (1) : “Banjarpetambakan” (1528 – 1780)

Berita

Menurut catatan Sejarah Kabupaten Banjarnegara telah mengalami 3 periodisasi, yaitu :

  1. Periode Banjar Petambakan (1582 – 1780), dengan 12 masa bupati.
  2. Periode Banjarwatulembu (1780 – 1831), dengan 2 masa bupati.
  3. Periode Banjarnegara (1831 – sampai sekarang), sudah 15 kali masa jabatan bupati.

 

BANJARPETAMBAKAN

Pada awal berdirinya Kabupaten Banjarnegara masih bernama Banjar Petambakan yaitu periode tahun 1582-1780 M dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang dengan Raja Sultan Hadiwijaya. Asal mula Kabupaten Banjar Petambakan tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup Raden Joko Kaiman (Pendiri Kabupaten Banyumas), yang merupakan menantu Adipati Wirasaba yaitu Adipati Wargahutama I. Setelah Adipati Warga hutama I meninggal, Joko Kaiman mendapat anugerah dari Sultan Hadiwijaya di Pajang untuk melanjutkan pemerintahan di Kadipaten Wirasaba dengan gelar Adipati Wargahutama II.

Menyadari bahwa dirinya hanya seorang menantu, atas seijin Raja Sultan Hadiwijaya di ajang, Raden Joko Kaiman membagi  wilayah kekuasaan Wirasaba menjadi  4 wilayah, yaitu : Wirasaba, Merden, Kejawar dan Banjar Petambakan. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 April 1582 M oleh karenanya tanggal terebut sesungguhnya menjadi “permulaan” sejarah pemerintahan Banjar Petambakan. Periode Kadipaten Banjar Petambakan mengalami pergantian Adipati sebanyak 12 kali yaitu :

KRT Wiroyudo (1582-1594), KRT Wargahutama (1594-1620), KRT Wirakusuma (1620-1647), KRT Wirawijaya (1647-1659), KRT Purwanagoro (1659-1671), KRT Wirapraja (1671-1680), KRT Tambakyuda (1680-1698), KRT Reksayuda (1698-1710), KRT Reksawijaya (1710-1723), KRT Purwawijaya (1723-1730), KRT Wironagoro (1730-1738), dan KRT Sosroyuda (1738-1780).

 

KRT WIRAKUSUMA dan KRT WIRAWIJAYA : Bupati “Konservasi”

Menyadari bentang Banjar Petambakan memiliki banyak pegunungan dan resiko bencananya, Bupati Wirakusuma dan Bupati Wirawijaya gencar mereboisasi wilayah utara maupun selatan.

Bupati KRT Wirakusuma (1620-1647).

Di masa pemerintahannya, wilayah Banjar Petambakan khususnya di Pegunungan Serayu Selatan berhasil direboisasi menjadi hijau, sejuk dan memberi suasana magis. Cocok untuk kontemplasi spiritual. Pantas kalau beliau disebut sebagai Bupati Perintis Konservasi.

Tidak hanya reboisasi, KRT Wirakusuma dikenal ahli dalam bidang pertanian dan produk kuliner. Saat itu, penjual makanan dan minuman di wilayah Banjar Petambakan dibina untuk menjaga produk selalu higienis.

Bupati KRT Wirawijaya (1647-1659).

Merupakan tangan kanan Sinuwun Amangkurat Agung yang pernah mengusulkan agar Kesultanan Mataram dipindahkan ke Pantura Tegal atau Banyumas. KRT Wirawijaya melakukan kebijakan dengan menanam pohon buah-buahan diwilayah Utara. Bagian utara Kabupaten Banjar Petambakan terdapat Gunung Prahu, Gunung Pengamun-amun, Gunung Gajahmungkur, Gunung Ratawu,Gunung Ragajembangan, Gunung Mandala dan Gunung Pawinihan. KRT Wirawijaya dikenal juga sebagai seorang bupati yang gemar berolah raga. Setiap hari Kamis beliau mengadakan lomba renang di Kali Serayu, dengan menaburkan uang recehan ke dalam kali dan peserta berebut dengan cara menyelam.

KRT PURWONAGORO DAN KRT TAMBAKYUDA : “Bupati Wirausaha”

Bupati KRT Purwonagoro

Pada tahun 1670 Bupati KRT Purwonagoro membawa rombongan untuk belajar cara membuat kecap ke Kabupaten Purwodadi Grobogan. Bupati ingin menumbuhkan kehidupan bisnis. Hasil pertanian, seperti kedelai perlu diolah agar memiliki nilai tambah lebih besar bagi petani.

Bupati yang satu ini bervisi wirausaha (entrepreneurship). Dengan tumbuh industri, khususnya pembuatan kecap, ia berharap sebagian warga Banjar Petambakan makin mandiri. Makin maju dan beragam usaha ekonomi (selain pertanian) yang dijalani warga, maka masyarakat suatu daerah akan hidup lebih makmur.

KRT Purwonagoro juga mencintai kesenian. Dimasa pemerintahannya, seni kerajinan, calung, lenggger, embeg, ketoprak dan wayang berkembang pesat. Dimasa ini pula seniman hidup makmur dan berkecukupan.

Bupati KRT Tambakyuda (1680-1698)

Ditugaskan Raja Sri Amangkurat Amral untuk membangun irigasi Kali Serayu. Tujuannya untuk memperkuat sisi ketahanan pangan yang berbasis pertanian. Irigasi yang baik akan menghidupkan sawah baru, sekaligus panen padi dan palawija akan lebih sering setiap setahun.

KRT Tambakyuda dikenal sebagai ahli metalurgi atau logam, terutama senjata tradisional keris. Beliau menguasai pengetahuan sekitar 24 pamor keris, diantaranya : Pamor Beraswutah, Randuru, Sekarpala, Sulur Ringin, Udan Mas, Pandan Binetot dan Ombaking Banyu. Adipati juga menguasai ilmu penempaan besi, diantaranya besi ‘mangangkang‘ yang berwarna hitam keunguan, dan pemakainya akan dicintai oleh banyak orang atau bisa menjadi penawar racun. Jenis besi lainnya adalah Walulin, Katub, Kamboja, Ambal, Winduadi, Tumpang, Werani, Tarate dan Welangi. Masing-masing memiliki ciri, aura, guna, dan perawatan yang berbeda-beda.

 

KRT REKSAWIJAYA : “Bupati Emansipasi”

Pada tahun 1714, Bupati mengirim sekelompok ibu-ibu pengrajin payung ke Pusat Kerajinan Payung di Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten untuk pelatihan cara membuat Payung (songsong) Kebesaran. Payung (songsong) Kebesaran adalah payung khusus yang melambangkan pangkat dan kedudukan seseorang. Dalam budaya Kerajaan Jawa ada beberapa warna payung kebesaran yaitu Emas, Putih, Hijau dan Hitam. Songsong khusus sebagai pembeda lambang hirarki : Raja hingga Bupati, Wedana, Mantri, Demang dan Abdi Dalem.

Seorang raja memiliki 3 jenis songsong yaitu Songsong Gilap Gubeng, Songsong Bawat, dan Songsong Agung. Pemegang songsong yang disebut dua terakhir berhak ‘disembah’ tanpa batasan ruang dan waktu. Sementara songsong Gilap Gubeng hanya dimiliki para pangeran dan berhak disembah lima kali.

 

Semasa Bupati Banjar Petambakan ke-9 ini, sebagian perempuan sudah dibekali kecakapan hidup dan didorong memiliki usaha agar menambah kesejahteraan keluarga. Semacam kegiatan PKK (saat ini) untuk memberdayakan keluarga dan meningkatkan kesejahteraannya. KRT Reksawijaya juga merupakan satu diantara sedikit Bupati yang pernah dilibatkan Raja Sinuwun Paku Buwono I menerbitkan Serat Kandha.

Bersambung ………………

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.